Senin, 24 September 2012

Catatan Mineralogi

Mineralogi


Mineralogi merupakan salah satu cabang dari geologi. Ilmu yang mempelajari mineral-mineral yang berupa unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang terdapat di alam dan merupakan pembentuk bagian-bagian padat dari alam semesta.
Cabang-cabang mineralogi antara lain:
Kristalografi
Mineralogi Fisik
Mineralogi kimiawi
Mineralogi optik

Mineral
Apakah mineral itu?
Mineral adalah benda padat, homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu, dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.

Mineral adalah bagian dari batuan. Mineral terdiri dari kristal-kristal. Ilmu tentang kristal dipelajari dalam kristalografi. Apakah kristalografi itu? Kristalografi adalah studi tentang kristal, baik bentuk luar maupun struktur dalam kristal. Kristal adalah zat padat yang homogen dengan ciri-ciri permukaan terdiri dari bidang-bidang datar (polieder) dan bidang-bidang ini merupakan pencerminan dari susunan atom-atomnya.

Objek studi kristalografi : unsur-unsur simetri kristal, simbol bidang kristal, sistem susunan sumbu, bentuk kristal, perawakan kristal 


Unsur-unsur simetri kristal antara lain:
    bidang simetri: bidang yang membagi dua bagian yang sama, terdiri bidang horizontal, vertikal, intermediate
    sumbu simetri: sumbu simetri merupakan garis sumbu perputaran kristal bila kristal diputar pada sudut-sudut tertentu akan kembali seperti kedudukan semula
    pusat simetri: titik dalam kristal yang memiliki jaraka sama dengan bidang-bidang kristal yang saling berhadapan.

Simbol bidang kristal
    Adalah gambar, huruf dan angka yang menunjukkan parameter kristal
    Simbol berupa gambar (Weiss)
    Simbol berupa tulisan (Miller), dikenal MILLER INDICES
    Contoh parameter Weiss = 2a:b:3c, ditulis dalam Miller Indices ½,1/1,1/3=3/6,6/6,2/6 atau 362

Sistem sumbu kristal


Bentuk kristal
    Bentuk dasar : bentuk tunggal,   sederhana, semua bidang muka kristalnya sama dan sebangun
    Bentuk kombinasi: beberapa bentuk dasar berlaianan yang membentuk bentuk kombinasi
    Bentuk kembaran

Perawakan kristal
    Merambut (capillary)
    Membenang (filliform)
    Menjarum (acicular)
    Membilah (bladed)
    Memapan (tabular)
    Mendaun (foliated)
    Melapis (lamellar)
    Membulu (plumose)
    Membata (blocky)
    Meniang (columnar)

Sifat fisik mineral;
1.    crystal habit (a. equant, b. fibrous, c. b;added, and d prismatic)
2.    cleavage ( a. two cleavages, b. three cleavage planes, and c. four cleavage planes).
3.    fracture (conchoidal fracture, splintery, fibrous fragments, irregular fractures).
4.    color
5.    streak :color of a fine powder of a miner
6.    luster :the manner in which a mineral reflects light
7.    hardness (1. talc, 2 gyps, 3. calcite, 4. flourite, 5. apatite, 6. orthoclase, 7. qurtz, 8.topaz, 9. corrundum, 10. diamond).
8.    specific gravity(s.g > 2,9 à heavy minerals, s.g. < 2,9 à light minerals)
9.    other properties: acid, magnetism, electricity, radioactivity, fluorescence, and  phosphorescence.


Belahan
Apakah belahan atau cleavage itu?
Pecah mengikuti permukaan sesuai dengan struktur kristalnya. Jadi belahan selalu sejajar permukaan kristal.
Belahan dapat dikategorikan menjadi baik tidaknya bidang belahan:
1.    belahan sempurna: mika
2.    belahan bagus: kalsit
3.    belahan kurang bagus: fluorit
Belahan dapat dikategorikan berdasar arah, yaitu:
    Satu arah (pinakoid/basal): mika
    Dua arah (prismatik): piroksin, amfibol
    Tiga arah (rombohedral): kalsit
    Empat arah (oktahedral) : fluorit
    Enam arah (dodekahedral) : granat
Belahan menunjukkan 3 arah yang tidak  sama satu sama lain, misal pada mineral dengan kristal orthorombik,  triklin, monoklin.
Belahan menunjukkan 3 arah saling tegak lurus satu sama lain misal pada mineral dengan kristal orthorombik.

Pecahan (Fracture)
Apakah itu?
Apabila mineral diberi tekanan cenderung pecah. Pecahan dapat dilihat dari bentuk bidang pecahan, apabila mineral mendapat tekanan dari luar:
    Konkoidal : pecahan mineral yang membentuk seperti rumah siput (shell), spt: kwarsa, obsidian dan opal,
    Splintery: pecahan mineral yang terbentuk runcing-runcing seperti pada amfibol,
    Earthy: pecahan mineral seperti tanah misal pada kaolin,
    Hackly: pecahnya mineral seperti hancurnya besi yang mendapat tekanan/pukulan.

Kekerasan (hardness)
Kekerasan adalah daya tahan mineral terhadap goresan. Banyak para ahli mineralogi membuat skla kekerasan. Salah satunya adalah Mohs (Australia) pada tahun1822 mengkategorikan skala kekerasan menjadi 10 tingkatan.
KEKERASAN    MINERAL    KEKERASAN    MINERAL
1.
2.
3.
4.
5.    TALK
GIPSUM
KALSIT
FLUORIT
APATIT    6.
7.
8.
9.
10.    Ortoklas
KWARSA
TOPAS
KORUNDUM
INTAN


Dalam kehidupan sehari-hari kekerasan dapat dipraktekkan seperti berikut.
    Kuku jari mempunyai kekerasan     = 2,5
    Pisau lipat mempunyai kekerasan  = 5,5
    Benda terasa lemak, kekerasan   = 1,0
    Kekerasan = 2 mineral dapat digores dengan kuku
    Kekerasan = 3 mineral dapat dipotong dengan pisau
    Kekerasan = 4 mineral agak mudah digores dengan pisau
    Kekerasan = 5 mineral agak sukar digores dengan pisau
    Kekerasan = 6 mineral tidak dapat digores dengan pisau

Tenacity
Tenacity adalah sifat dalam  mineral terhadap tekanan. Tenacity merupakan sifat mineral yang tergantung pada kekuatan kohesi atom-atom penyusun mineral:
   > Malleable            >  Flexible
   > Ductile            >  Elastis
   > Sectile             >  Brittleness.

    Malleable: dapat digepeng-gepeng dengan palu (umumnya dipunyai oleh “native element (elemen tunggal) seperti: emas, perak, tembaga,)
    Ductile: dapat dirubah bentuk dengan suatu tekanan/nyala api seperti: emas, perak, tembaga, besi, dan kelompok elemen tunggal lainnya.
    Sectile: dapat dipotong dengan pisau dalam keadaan dingin seperti: gipsum, kalsit
    Flexible; dpt dibengkok, dan setelah tenaga hilang, bentuk tetap bengkok
    Elastis: dpt dibengkok, dan setelah tenaga hilang, bentuk kembali spt semula
    Brittleness: apabila kena tekanan, mineral akan pecah-pecah menjadi fragmental.

Berat jenis (BJ)
Berata jenis adalah angka yang menyatakan berapa kali berat suatu benda jika dibandinkan dengan berat air dengan volume yang sama dengan volume benda itu. Bj tidak bersatuan. Meskipun demikian di beberapa negara ada juga yang memberi satuan misal gram/cc atau lbs/ cubic ft, karena proses mengukurannya membutuhkan parameter unit berat dan volume.
               W1
SG = -------------    x L
             W1 – W2
Catatan:
SG    =   Specific grafity
W1   =   berat mineral diudara
W2   =   berat mineral dalam
              cairan
L       =  kerapatan cairan


              L (W2-W1)
SG = --------------------------    x L
             (W4 – W1)(W3-W1)
Catatan:
SG  =   Specific grafity
W1 =   berat piknometer kosong
W2 =   berat piknometer+ mineral
W3 =   berat piknometer berisi mineral
            dan cairan
W4  =  berat piknometer berisi cairan

Contoh BJ mineral dan batuan:
    Emas 19,3
    Platina 21,4
    Perak 10,5
    Tembaga 8,5
    Besi 7,3
    Granit 2,5 -2,7
    Andesit   1,6 – 2,6
    Diorit  2,8 – 2,9

Kilap
Apakah kilap itu?
Kilap adalah sifat optik yang mempunyai hubungan erat dengan peristiwa pemantulan atau pembiasan. Ada beberapa macam kilap, yaitu kilap logam, kilap bukan logam dan kilap setengah logam. 
Kilap logam
Mineral-mineral yang apat menyerap pancaran sinar secara kuat, umumnya memiliki kilap logam (metalic luster). Index biasnya (n) lebih dari 3, contohnya kilap logam murni (native) serta sebagian besar sulfida logam, emas, perak, platina, besi, hematit. 

Kilap bukan logam (non metalic luster),contohnya:
    Kilap kaca (vitreous), mis: kwarsa
    Kilap intan (adamantin), mis: zircon, belerang,rutile, intan, casiterit, spalerit
    Kilap lemak (greasy)
    Kilap lilin (waxy)
    Kilap sutra (silky), mis: fibrous aggregates
    Kilap mutiara (pearly)
    Kilap seperti lempung (dull) = earthy.

Warna mineral
Apakah warna mineral  itu?
Warna mineral ditimbulkan karena penyerapan beberapa jenis panjang gelombang yang membentuk cahaya putih, jadi warna itu timbul sebagai hasil dari pada cahaya putih yang dikurangi oleh beberapa panjang gelombang yang terserap.
    Sebab-sebab timbulnya warna mineral:
    1. Komposisi kimia mineral
    2. Struktur kristal dan ikatan ion
    3. Pengotoran (impurities) pada mineral,
    4. Perbedaan panjang gelombang yang diserap

Transparency
Transparency adalah sifat mineral terhadap  daya tembus cahaya
Daya tembus cahaya:
    Transparent (tembus cahaya)
    Translucent (sifat padangan yang kabur)
    Sub transparent (setengah tembus cahaya)
    Opaque (tidak tembus cahaya)

Warna specific akibat permainan sinar
    Opallescence: pantulan seperti mutiara atau satu drop air susu kedalam air dalam gelas
    Iridescence: adanya serangkaian prismatik baik di permukaan maupun didalam mineral. Ini terjadi karena:
    adanya kembaran (twin) dalam mineral 
    adanya film (coating) material di permukaan
    Asterism: seperti refleksi sinar berbentuk bintang
    Fluorescence: adanya emisi cahaya pada saat yang bersamaan dengan iradiasi.
    Phosphorescence: emisi cahaya yang terus menerus setelah iradiasi berakhir,
    Thermoluminescence: mineral setelah dibakar masih kelihatan bara apinya,
    Triboluminescence: mineral apabila digosok atau dipukul dengan palu timbul percikan api,

Sifat mineral yang lain antara lain:
    Sifat optic, yaitu  menggunakan cahaya yang sudah terpolarisasi. Tentu saja dengan mikroskop polarisasi. Pada mikroskop polarisasi terdapat kondensor pengumpul sinar, diafragma pengatur jumlah sinar,  cermin pemantul sinar, polarisator untuk memperoleh sinar yang terpolarisasi, meja obyek berlubang tengah untuk memperoleh sinar yang dapat diputar, klem penjepit preparat mineral, lensa obyekstif, lensa bertrand untuk mengetahui sumbu optis, dan lensa okuler.   
    Sifat yang dipengaruhi panas, yaitu berkaitan dengan pemuaian, dan  titik lebur.
    Sifat magnet, yaitu gaya tarik kemagnetan terhadap mineral sejenis lainnya, seperti magnetit, dan pyrotit, diukur dengan alat magnetometer.
    Sifat elektrikal, yaitu sifat kelistrikan yang ditimbulkan karena pemanasan, dan gesekan.
    Sifat rasa cecap, dan  bau   ( taste, odor). Rasa cecap contohnya mineral halit (NaCl) yang asin, rasa bau contohnya mineral belerang (S) yang berbau spesifik.

Mineral utama
    The rock-forming minerals are the minerals that most common minerals in the Earth’s crust.
    They are : olivine, pyroxene, amphibole, mica, the clay minerals, feldspar, quartz, calcite, and dolomite.
    The first six minerals in that list are actually mineral “groups,” in which each group contains several varieties with very similar chemical compositions, crystalline structures, and appearances.

Mineral asesoris
    Minerals that are common but usually are found only in small amounts.
    Examples: Chlorite, garnet, hematite, limonite, magnetite, and pyrite are common accessory minerals.

Klasifikasi mineral:
a.    Native Elements
b.    Oxides
c.    Sulfides
d.    Sulfates
e.    Phosphates
f.    Carbonates
g.    Silicates


Komposisi mineral
Unsur                                  Berat (gram)
O                                         464.000
Si                              281.500
Al    82.300
Fe    56.300
Ca    41.500
Na    23.600
Mg    23.300
K    20.900
Ti      5.700
H      1.400





    N.L. BOWEN menunjukkan bagaimana suatu magma tunggal dapat menghasilkan berbagai BATUAN BEKU.
    Olivin meleleh pertama pada temperatur tinggi sehingga membentuk kristal pertama, sedangkan kuarsa meleleh pada temperature rendah sehingga mengkristal terakhir.
    Batuan beku yang terbentuk oleh mineral yang terbentuk awal, (Olivin dan Piroksin) disebut batuan ULTRAMAFIK
    Batuan beku yang terbentuk oleh pirok-sin dan kalsium yang kaya feldspar disebut mempunyai komposisi BATUAN BASALTIK
    Batuan beku yang terbentuk oleh mineral Amfibol dan INTERMEDIATE plagioklas feldspar disebut BATUAN ANDESITIK

Jenis magma
    Jenis magma granit
    Jenis magma syeinit
    Jenis magma diorit
    Jenis magma gabro

Granit:
    Susunan mineral: kwarsa, ortoklas, plagiolas (jumlah sedikit)
    Warna mineral gelap (tua) : biotit dan hornblende
    Mineral aksesor : apatit, magnetit, zirkon, ilmenit dan titanit.

Syenit
    Hampir sama dengan GRANIT tetapi tidak mengandung/sedikit Kwarsa.
    Batuan lelehan SYEINIT disebut porfir syeinit atau Trachyt.
    Mineral aksesor: apatit, zirkon, titanit.
Diorit:
    Bertambahnya mineral Ferro-Magnesium à warna lebih tua (gelap).
    Feldspat umumnya plagioklas
    Mineral Femis : piroksin dan amfibol
    Mineral akessor: apatit dan zirkon.
    Batuan lelehan: Andesit.

Gabro:
    Mineral utama pembentuk batuan: piroksin dan olivin à warna hitam
    Batuan lelehan : BASALT









Genesa mineral
Mineral merupakan hasil akhir dari proses alam yang kompleks. Karakteristiknya, lingkungan geologinya, mineral asosiasinya merupakan tanda yang menerangkan kondisi sebenarnya dimana mineral terbentuk dan kemungkinan yang akan datang.

Lingkungan terjadinya mineral
    Batuan beku
    Pegmatit
    Veinhydrotermal
    Endapan hotspring serta fumarol


Ada 7 mineral yang terjadi dalam batuan beku:
1. Kuarsa
2. Feldspar
3. Felspathoid
4. Pyroxene
5. Hornblende
6. Biotit
7. Olivine

Pegmatit
Lelehan sisa kristalisasi magma merupakan cairan silikat kaya dengan alkali dan aluminium, berair serta beruap (volatile). Tekanan volatil mendorong cairan ke permukaan bumi dan membentuk mineral di urat-urat (vein) hydrotermal.
    Mineral pegmatit memiliki tekstur butir yang sangat kasar, berbentuk pipa (tabular) 

Endapan hydrothermal:
    mineral terbentuk pada urat-urat (vein) panas, dibedakan menjadi 3:
1.    Hyphothermal : 300 – 500 °C : caseterit, molybdenit, topaz, kuarsa
2.    Mesothermal : 200 – 300 °C: besi, zink, timbal, calsit, siderit.
3.    Epithermal : 50 - 200 °C : antimony, mercury, perak, emas.

Endapan mataair panas:
    Mineral  terbentuk di mata air panas adalah opalin silica
    Mineral pada fumarol adalah sulfur dan chlorida


Lingkungan mineral sedimen:
    Resistat: mineral tahan lapuk (kursa)
    Hydrolisat: berbeda komposisi kimia dan mineralogi
    Oxidat : besi dan mangaan oksida
    Reduzat : sedimentasi sulfida (sulfur, siderit)
    Presipitat: dolomit, calsit.
    Evaporit: CaSO4, NaCl, MgCl, KCl.

Lingkungan metamorfik:
    Tenaga pendorong dalam metamorfik adalah panas, tekanan, dan kerja larutan kimiawi
    Terjadi pada kedalaman 6 hingga 7 km pada suhu 150 °C


Deskripsi mineral
Berikut ini adalah beberapa contoh mineral yang dideskripsikan dengan bebrapa sifat fisik dan optis  mineral.
Emas:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 2,5 – 3
    Bj : 19,3
    Kilap  : logam
    Warna : kuning
    Optik opaque
    Terdapat: urat-urat hidrotermal bersosiasi dengan mineral sulfida


Perak:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 2,5 – 3
    Bj : 10,5
    Kilap  : logam
    Warna : putih
    Cerat : putih
    Optik opaque
    Terdapat:  zone oksidasi dari endapan bijih sulfida, terbentuk karena proses hidrotermal

Tembaga:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 2,5 – 3
    Bj : 8,9
    Kilap  : logam
    Warna : merah muda
    Cerat : hitam
    Optik opaque
    Terdapat: zone oksidasi dari endapan bijih sulfida

Platina:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 4 – 4,5
    Bj : 21,4
    Kilap  : logam
    Warna : putih
    Cerat : abu-abu
    Optik opaque
    Terdapat: pemisahan dalam batuan-batuan magma ultrabasa dan di dalam endapan letakan (places)

Besi:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 4 sampai hitam
    Bj : 7,3 – 7,8
    Kilap  : logam
    Warna : abu-abu besi
    Cerat : abu-abu
    Optik : n = 2,36
    Terdapat:   terdapat dalam batuan meteorik, sedikit dalam batuan basal

Belerang :
    Sistem kristal : ortorombikβ
    Belahan : tidak sempurna
    Kekerasan : 1,5 - 2,5
    Bj : 2,1
    Kilap  : mendamar sampai melemak
    Warna : kuning sampai coklat
    Cerat : putih
    Optik:kompleks  α, β,γ tertentu
    Terdapat:  zone oksidasi dari endapan bijih sulfida, terbentuk karena proses hidrotermal


Intan:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 10
    Bj : 3,5
    Kilap  : intan  --- lemak
    Warna : bening, putih, kebiruan, abu-abu, kuning, coklat, oranye, merah, hijau, hitam
    Optik : cerah n = 2,4
    Terdapat:  pada breksiasi, serpentin, endapan bawah laut.

Halit:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 2,5
    Bj : 2,16
    Kilap  : kaca
    Warna : bening, kekuningan, kenerahan, biru, keunguan
    Cerat : bening sampai putih
    Terdapat:  dalam endapan berubah bentuk oleh evaporit dari air laut yang tertutup lagun.

Fluorit:
    Sistem kristal : isometrik
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 4
    Bj : 3,18
    Kilap  : kaca
    Warna : ungu sampai biru, hijau
    Cerat : putih
    Optik : bening sampai ungu muda n: 1,4
    Terdapat:  sebagai mineral pengiring dalam formasi hidrotermal akhir dari granit

Korundum:
    Sistem kristal : trigonal
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 9
    Bj : 6,14
    Kilap  : intan sampai kaca
    Warna : variasi
    Cerat : putih
    Optik kompleks
    Terdapat: sebagai mineral pengiring dalam formasi syenit nefelin.  Proses metamorfosa dalam batuan gamping

Hematit:
    Sistem kristal : trigonal
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 5 - 6
    Bj : 4,9  -  5,2
    Kilap  : logam
    Warna : abu- hitam
    Cerat : merah gelap sampai coklat merah
    Optik  opaque
    Terdapat: sebagai mineral pengiring dalam formasi granit.  Proses metamorfosa kontak. Diperkirakan sublimasi dari kegiatan vulkanis.

Kalsit:
    Sistem kristal : heksagonal
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 3
    Bj : 2,71
    Kilap  :  kaca
    Warna : bening atau putih
    Cerat : putih
    Optik kompleks
    Terdapat: sebagian besar terbentuk di laut sebagai nodul dalam batuan sedimen. Urat hidrotermal sebagai mineral gang, di dalam berbagai batuan beku.

Dolomit:
    Sistem kristal : heksagonal
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 3,5 - 4
    Bj : 2,85
    Kilap  :  kaca
    Warna : bening atau putih sampai krem
    Cerat : putih
    Optik kompleks
    Terdapat: Terjadi dalam lapisan batugamping magnesium. Sebagai mineral gang urat hidrotermal, di dalam berbagai batuan beku.

Gipsum:
    Sistem kristal : monoklin
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 2
    Bj : 2,32
    Kilap  :  kaca, mutiara, sutera
    Warna : bening atau putih, keabuan
    Cerat : putih
    Optik kompleks
    Terdapat: sebagai endapan berasosiasi dengan batuan gamping magnesium, halit, dan anhidrit.

Muskovit:
    Sistem kristal : monoklin
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 2 – 2,5
    Bj : 2,76 – 2,88
    Kilap  :  kaca sampai sutra mutiara
    Warna :  bening
    Optik kompleks
    Terdapat: mineral pembentuk batuan beku, di batuan granit.

Talk:
    Sistem kristal : monoklin
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 1
    Bj : 2,7 – 2,8
    Kilap  :  mutiara sampai lemak
    Warna :  hijau apel, abu, putih, putih perak
    Optik kompleks
    Terdapat: terbentuk oleh alterasi dari magnesium silikat, seperti olevin, piroksen, dan amphibol. 

Hornblende:
    Sistem kristal : monoklin
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 5 - 6
    Bj : 3 – 3,4
    Kilap  :  kaca
    Warna : hijau gelap sampai hitam
    Optik kompleks
    Terdapat: dalam batuan beku dan metamorfosa. 

Kuarsa:
    Sistem kristal : heksagonal
    Belahan : tidak ada
    Kekerasan : 7
    Bj : 2,65
    Kilap  :  kaca
    Warna :  bening -  putih
    Optik kompleks
    Terdapat: di batuan beku, dan urat-urat logam hidrotermal.

Topaz:
    Sistem kristal : ortorombik
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 8
    Bj : 3,4 – 3,6
    Kilap  :  kaca
    Warna :  bening, kuning, merahmuda, kebiruan, kehijauan.
    Optik kompleks
    Terdapat: di batuan beku riolit dan granit, dan batuan pasir.

Apatit:
    Sistem kristal : heksagonal
    Belahan : tidak baik
    Kekerasan : 5
    Bj : 3,15 – 3,20
    Kilap  :  kaca sampai sub damar
    Warna :  hijau sampai coklat, biru, violet, bening
    Optik kompleks
    Terdapat: di batuan beku, sedomen, metamorfose

Ortoklas:
    Sistem kristal : monoklin
    Belahan : sempurna
    Kekerasan : 6
    Bj : 2,57
    Kilap  :  kaca
    Warna :  bening -  putih
    gores : putih
    Optik kompleks
    Terdapat: di batuan beku granit, syenit, sedimen konglomerat, metamorfose.

Kegunaan mineral
Mineral telah digunakan manusia sejak lama. Kegunaan mineral dapat disaksikan sehari-hari. Mineral pada mulanya diambil langsung dari alam, kemudian pada tahap berikut diolah dengan kombinasi bebrapa mineral sehingga menghasilkan barang-barang industri. Banyak barang industri seperti barang rumah rumah tangga seperti kompor, kulkas, TV, radio, tape, pisau, piring, sendok, hingga  kendaraan darat, laut, udara adalah contoh barang kombinasi beberapa mineral.

Mineral biji
Sering banyak orang menyebut mineral biji untuk mineral logam dan bukan logam yang dapat diubah dalam beberapa kegunaan.  Mineral logam contohnya besi, timbal, aluminium, dan tembaga banyak digunakan karena memiliki sifat malleability dan ductility.  Mineral bukan logam sebagian ada yang langsung digunakan seperti halit, tetapi ada yang harus diolah, seperti asbestos yang harus dipisahkan dari serpentin.

Perhiasan
Banyak mineral digunakan untuk perhiasan.  Mineral-mineral itu adalah
    intan dengan berbagai warna,
    turmalin dan topaz juga berbagai warna, 
    ruby dengan warna merah dan biru-merah,
    emerald dengan warna hijau,
    aquamarin dengan warna biru hijau dan biru pucat,
    amethyst dengan warna ungudan  biru violet.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar